Tak Indahkan Aspek Arkeologis, Banten Lama Hanya Bernilai Instagramable

0
35

SERANG – Revitalisasi kawasan Banten Lama nyatanya menyisakan polemik. Hal tersebut dikarenakan dalam melakukan revitalisasi, tidak mengindahkan aspek arkeologis.

Selain itu, kegiatan revitalisasi tersebut seakan dilakukan dengan tidak serius. Sebab, banyak bangunan yang telah direvitalisasi, sudah mulai terlihat rusak.

Berdasarkan penelusuran, setidaknya terdapat beberapa bangunan yang sudah terlihat rusak, seperti tempat duduk melingkar yang lantainya sudah mulai pecah, keramik yang tidak berisi semen, dan cat yang mulai memudar.

Selain itu, banyak dari keran di tempat wudhu wanita, ternyata tidak mengalirkan air. Belum lagi dari segi pengamanan, masih sangat minim. Terlihat, meskipun sudah diperingatkan berkali-kali melalui pengeras suara, masih banyak pengunjung yang menggunakan alas kaki, dan merokok di area Masjid.

Akademisi Universitas Indonesia (UI), Chaidir Ashari, menuturkan bahwa dalam melakukan revitalisasi cagar budaya, diharuskan adanya kajian arkeologis terlebih dahulu. Hal tersebut, lanjutnya, menjadi penting karena berkaitan dengan sejarah masa lalu, dan bukti peninggalannya.

“Oleh karena itu, revitalisasi yg ada tidak bisa dilakukan sembarangan. Itu yg harusnya menjadi Pekerjaa Rumah untuk para stakeholder yang terkait. Begitu pula apa yg dilakukan Pemprov Banten terhadap Kawasan Banten Lama,” ujarnya yang juga merupakan dosen Program Studi Arkeologi, Senin (8/7).

Menurutnya, jika pemerintah hanya mengejar sisi estetika saja, yang tersisa dalam cagar budaya tersebut, hanyalah titik foto yang baik untuk media sosial, tidak menyisakan sisi edukatif.

“Jika hanya mengejar estetika belaka tanpa ada kajian arkeologis semata, maka situs hanya menjadi ‘Instagramable’ saja. Masyarakat dapat spot cantik, tapi minim pengetahuan sejarah wilayahnya sendiri,” ungkapnya.

Hal tersebut, kata Chaidir, berdampak langsung pada pola perilaku para pengunjung Banten Lama. Ini dibuktikan dengan kurang tertibnya pengunjung, dalam mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan.

“Dengan kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kelestarian bangunan cagar budaya, maka tidak heran jika Kawasan Banten lama lebih rapih dan tertata, tapi perilaku manusia pengunjungnya masih suka buang sampah sembarangan, merokok sembarangan, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Dengan dasar itu, dikatakan oleh Chaidir, revitalisasi yang dilakukan haruslah melihat dasarnya, untuk segera didiskusikan antar stakeholder terkait.

“Dalam hal ini, Kawasan Banten Lama ada Pemprov, Pemkot, BPCB Serang, hingga ke DPCBM Kemendikbud, harus duduk bersama untuk membicarakan kelanjutan revitalisasi Banten Lama, sehingga tidak ada tumpang tindih dalam pelaksanaan revitalisasi,” tegasnya.

Sementara itu, seniman yang bergiat di Laboratorium Banten Girang, Peri Sandi, menuturkan bahwa dalam proyek revitalisasi Banten Lama, terlihat Pemprov seperti bekerja asal-asalan.

“Dari sejak awal revitalisasi ini inginnya cepat, tidak mengindahkan kajian arkeologis, bangunan yang dibuat sama sekali tidak ada relasi dengan bangunan yang ada, baik dilihat dari kesejarahan ataupun arsetektural, sehingga terkesan memaksakan, bahkan pencitraan, sing penting beres. Kinclong dan bagus difoto,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut dapat menghilangkan nilai sejarah dari situs bersejarah tersebut. Dan juga, ia khawatir jika hal tersebut terus dilakukan, maka dapat menghapus sejarah kejayaan Banten bagi generasi yang akan datang.

“Ini bangunan sejarah. Pondasi berpikir bagi anak cucu. Bila hanya mengejar instagramable dan rapi dan yang tampak hari ini, niscaya anak cucu tidak akan melihat kejayaan yang pernah dibangun oleh leluhurnya,” tandasnya.

Terpisah, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Banten, Radjimo Sastro Wijono, mengatakan bahwa tujuan dari dilakukannya revitalisasi Banten Lama, seharusnya adalah untuk edukasi.

“Pertama, saya mengapresiasi upaya mengoptimalkan warisan sejarah, dalam hal ini kompleks Banten Lama. Apa yang sekarang disebut revitalisasi, prinsip awalnya yang perlu dipahami adalah apa tujuan menghidupkan lagi atau memvitalkan lagi, untuk edukasi bukan komersialisasi,” ujarnya.

Menurutnya, polemik yang hadir di tengah masyarakat, khususnya akademisi, merupakan salah satu bukti bahwa proses revitalisasi, belum berjalan dengan baik.

“Tentang penilaian baik dan tidak apa yang direvitalisasi. Saya kira dengan munculnya polemik yang berkembang di masyarakat ini menandakan bahwa proses yang dijalankan belum baik,” tandasnya. (Us/ed)

Comments are closed.