Kelangkaan Elpiji 3 Kg, DPRD LebakTerima Keluhan Masyarakat

0
98

LEBAK – (BTP) – DPRD Kabupaten Lebak banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat terkait langkanya gas elpiji 3 Kilogram (Kg), kalaupun ada harga yang dijual para pengecer sangat tinggi yakni mencapai Rp 28 – 35 ribu pertabungnya. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah tidak lebih dari Rp 16 ribu.  

Muhamad Arif, anggota DPRD Lebak dari Fraksi Nasdem,Wakil Ketua Komisi l mengatakan, dengan banyaknya keluhan masyarakat dia meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lebak agar segera menggelar inspeksi terhadap pendistribusian elpiji berbentuk melon tersebut. Jangan sampai harga terus tidak terkendali bahkan langka dipasaran yang membuat warga kebingungan.

“Keluhan tersebut kita terima dari sejumlah warga dibeberapa wilayah dengan pertabungnya mencapai Rp 28 ribu hingga Rp 35 rubu pertabung,” kata Muhamad Arif, Kamis (10/12).

Untuk mengantisipasi kelangkaan dan melonjaknya harga gas elpiji tiga kilogram, dia mendesak agar Disperindag segera menggelar sidak dan operasi pasar. Jika pemerintah tidak melakukan interpensi, dipastikan akan membebani ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah. 

“Saya menilai pengawasan terhadap distribusi elpiji tiga Kilogram sangat lemah, sehingga harga di pasaran bervariasi dan jauh dengan HET yang telah ditetapkan pemerintah,” jelasnya.

Lanjut Arif, untuk memutus mata rantai pendistribusian elpiji yang harganya semakin menggila, tentu petugas harus bertindak tegas, sehingga elpiji di pasaran kembali normal sesuai HET serta tidak terjadi kelangkaan.

“Agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat, sebaiknya pemerintah segera menetralisir penyebab tingginya harga elpiji bersubsdi tersebut,” terangnya.

Ihat, ibu rumah tangga di Desa Aweh, Kecamstan Kalanganyar mengaku, saat ini harga tabung gas elpiji kemasan tiga kilogram di wilayahnya mencapai Rp 30 ribu per tabung, itu pun barangnya susah dicari atau langka.

“Sudah harganya tinggi, kami juga susah mendapatkannya karena langka,” ucap Kokom.

Menurutnya, selama dua pekan terakhir pasokan elpiji kemasan tiga kilogram terjadi kesulitan sehingga harus pergi ke agen dengan jarak dua kilometer dari rumah.

“Kami terpaksa membeli elpiji kemasan tiga kilogram Rp 30 ribu itu karena di sini sulit mendapatkan gas, padahal biasanya atau sebelumnya hanya Rp 21 – 22 ribu/tabung,” paparnya.

Sekretaris Disperindag Kabupaten Lebak, Orok Sukmana mengatakan, saat ini kebutuhan pasokan gas elpiji tiga kilogram sebetulnya telah mencukupi untuk kebutuhan masyarakat lebih dari enam juta tabung atau 18 matrik ton. 

“Kami menjamin persedian gas elpiji cukup untuk kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Terkait tingginya elpiji di tingkat pengecer atau warungan kata Orok, itu hanya ulah pengecer. Karena, harga dari agen akan mengikuti harga yang telah ditetapkan pemerintah. Begitu juga dengan keberadaan tabung si melon jika melihat dari kebutuhan pasokan gas elpiji tiga Kg sudah mencukupi dan seharusnya tidak terjadi kelangkaan.

“Kita tidak bisa melakukan interpensi karena itu wilayahnya berada pada pertamina, begitu juga dengan pengawasan ada di provinsi, kita hanya bisa monitoring saja,” terangnya.

(De/Btp)

Comments are closed.