Tanah MAN 2 Cihideung Disoal, Warga Tolak Pembongkaran Gedung

0
41

Pandeglang – BTP – Pemugaran gedung sekolah Madrasya Aliyah Negeri (MAN) Cihideung, Kabupaten Pandeglang dipersoalkan masyarakat dengan adanya pernyataan sikap penolakan dari
Forum Masyarakat Cihideung Peduli Pendidikan (FMCPP).

Hal itu diungkapkan Ketua FMCPP, Tatang Tohani, dan Sekretarisnya, Muhamad Fachrudin, kepada media ketika ditemui di Cihideung, Sabtu (12/12/20), sehubungan adanya pemasangan plang “Pernyataan Sikap” dan larangan masuk di tanah wakaf tanpa seizin FMCPP. Plang itu dipasang tepat di pintu masuk lokasi eks MAN 2 Pandeglang.

Pasalnya, di atas tanah wakaf seluas 2020 M² itu berdiri bangunan gedung eks MAN 2 Pandeglang yang akan dibongkar total berdasarkan hasil lelang di KPKNL Serang. Pembongkaran ini dilakukan karena MAN 2 Pandeglang sudah punya gedung baru di lokasi lain.

Padahal jauh sebelum dilakukan lelang, pihak pengelola tanah wakaf telah mengirim surat kepada Kepala MAN 2 Pandeglang bernomor 011/YAMCC/VII/2019 tanggal 29 Juli 2019, yang meminta agar segera mengembalikan asest wakaf yang dikelola Yayasan Al-Mujahidin Cihideung.

“Surat itu dilayangkan guna menyikapi adanya surat dari H. Slamet selaku Kepala MAN 2 Pandeglang tentang pemberitahuan pindah lokasi MAN 2 Pandeglang kepada Kepala Kemenag Kabupaten Pandeglang, dengan nomor B.584/Ma.28.01.03.02/HM.01/07/2019 tanggal 10 Juli 2019, yang juga ditembuskan kepada Pengurus Yayasan Al-Mujahidin Cihideung.

Akan tetapi, surat dari pengelola asset wakaf tanggal 29 Juli 2019 tersebut, yang juga ditembuskan kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten dan Kepala Kemenag Kabupaten Pandeglang, ternyata tidak pernah ditanggapi oleh H. Slamet selaku Kepala MAN 2 Pandeglang.” beber keduanya.

Dikatakan Tatang,
hingga pada akhirnya sekitar Oktober 2020 masyarakat Cihideung dikejutkan dengan adanya pembongkaran5 atap gedung MAN tersebut. “Seluruh gentengnya diturunkan. Bahkan, daun pintu setiap ruang kelas pun dibongkar. Sehingga nampak bangunan gedung madrasah itu rusak parah,” Tatang.

Oleh sebab itu, FMCPP akan tetap menolak pembongkaran gedung eks MAN 2 Pandeglang yang berdiri di atas tanah wakaf. “Sebaiknya bangunan gedung itu dihibahkan kepada pengelola wakaf untuk pendidikan Islam.” harap Tatang Tohani.

Sementara Kepala MAN Cihideung, H Slamet saat dikonfirmasi media beberapa waktu lalu menyatakan, bahwa pembongkaran atap itu lakukannya atas perintah Kepala KPKNL di Serang.

“Hal itu sesuai surat dari KPKNL tertanggal 29 September6 2020 tentang Persetujuan Penghapusan Barang Milik Negara Karena Sebab-sebab Lain Pada Kementerian Agama Republik Indonesia cq MAN 2 Pandeglang. Jadi saya membongkar atas perintah kepala KPKNL Serang.” tandas Slamet.

Menjawab pertanyaan tentang dari mana biaya pembongkaran itu, Slamet mengaku menggunakan uang pribadinya. “Pembongkaran genteng itu pakai uang pribadi saya.” kata Slamet.

Pembongkaran yang dilakukan oknum Kepala MAN 2 Pandeglang itu diduga sebagai tindakan melawan hukum dan dapat di pidana. Sebab, pembongkaran itu dilakukan sebelum pihak KPKNL menetapkan pemenang lelang pembongkaran gedung MAN tersebut.

Ketua Yayasan Al-Mujahidin Cihideung, H Salman membenarkan hal tersebut.”Hal itu muncul akibat kurang koperatifnya seorang kepala sekolah MAN Cihideung. Namun kita masih menunggu upaya kita berkoordinasi dengan Kemenag RI di jakarta, semoga saja ada jalan terbaik bagi semua.” ungkap H Salman melalui telepon selulernya.

Dijelaskannya, kronologis sejarah berdirinya lembaga pendidikan agama Islam
di atas tanah wakaf masyarakat Cihideung.

Berawal dari wakaf atas nama H. Mustofa, seluas 2020 M² yang diwakafkan untuk kegiatan Madrasah Ibtidaiyah (MI) berdasarkan akte ikrar wakaf tanggal 17 Januari 1987 No. E. 07. 01/W.089/195/1987.

Bangunan didirikan sebanyak 6 (enam) lokal yang diperuntukkan MI dibangun sejak tahun 1950 dengan swadaya masyarakat Cihideung untuk kegiatan belajar mengajar pada sore hari. Pada tahun 1967 sampai dengan 1979, dipergunakan oleh Pendidikan Guru

Agama (PGA) 4 tahun dan menjadi Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) selama 6 tahun, dengan proses kegiatan belajar mengajar di pagi hari.

Tahun 1982 sampai dengan 1989, di pergunakan oleh Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Filial Serang. Tahun 1991 sampai dengan 2019 dipergunakan MAN 2 Pandeglang.

(Red.btp)

Comments are closed.