Jalan Hardiwinangun Dijadikan Terminal Bayangan Angkot Jurusan Rangkasbitung Aweh

0
54

LEBAK – (BTP) – Angkot jurusan Rangkasbitung – Aweh penuhi jalan Hardiwinangun, tepatnya di depan Rangkasbitung Plaza (Rabinsa) seakan dijadikan terminal bayangan oleh para sopir angkot yang memburu penumpang di sekitar Rabinsa.

Pantauan BantenTop.id, Angkot tersebut berjejer disepanjang jalan Hardiwinangun seolah olah terminal bayangan, dan ironisnya petugas dari Dinas Perhubungan satupun tidak ada dilokasi.

Abdu Rajak Kepala Bidang (Kabid) Dal Ops Lalin Dinas Perhubungan Kabupaten Lebak mengatakan, sebetulnya itu sudah dilarang, itu tadi dengan alasan ini itu, gimana lagi katanya menirukan bahasa sopir angkot. Memang, kalau sesuai, yang jelas sangat mengganggu arus lalulintas, makanya biasa ada petugas di lokasi tersebut dan diarahkan supaya bergeser, jangan ada penumpukan

‘Okelah dengan adanya covid-19 ini jelas untuk mencari penumpang sangat susah dan itu perlu di atur jangan lebih dua kendaraan, tapi jangan dijadikan terminal bayangan, sebetulnya tidak boleh apalagi pas belokan mengganggu kemacetan,intinya dilarang,” terang Abdu Rajak, kepada BTP melalui whatsApp, Kamis (17/12/2020).

“Biasanya kami menempatkan petugas disetiap daerah rawan, karena ini masih anak sekolah belum masuk, dan mereka di tarik ke deket pintu kereta yang deket toko glori, biar seteril dari pintu kereta api supaya jangan ada angkot.Jika dari pihak petugas saklek pasti akan terjadi keributan, makanya saya menekankan pada petugas humanis saja dengan para supir,” tambahnya.

Kata Rajak, karena kadang kadang supir sendiri suka bawa LSM, TNI, tapi ia mengaku tidak jadi masalah, kalau mereka melanggar aturan, pihaknya akan menindak.

“Dengan kurangnya kesadaran penggunan jalan dan rencana kedepan akan mengundang pengusaha ataupun pengelola kendaraan, paguyuban untuk di beri pengarahan bagaimana bagusnya,” terang Kabid Dal Ops Lalin Dishub Lebak.

“Kita sebagai aparat pemerintah mendukung mereka untuk tenang mencari nafkah,” tukasnya.

Namun, kata dia, mereka sendiri juga mencari nafkah harus sesuai dengan aturan yang di tetapkan pemerintah, biar tidak ada gejolak di masyarakat, itu yang sekarang berkembang, kadang kadang ada juga propokator yang memanfaatkan keadaan ingin melegalkan dan itu nggak bisa.

“Saya mengakui, jika angkot saya usir dua tiga hari begitu lagi seperti main kucing kucingan,” imbuhnya.

Menurutnya, Dinas berpatokan, pertama trayek yang ditertibkan alurnya kemana, memang tidak ada aturan atau robah trayek dari Tirtayasa ke setasiun itu di hapuskan.

“Otomatis harus ada perubahan trayek kemana dan yang mana harus di pakai,” tandasnya.

Sementara, Jaenal salah seorang sopir angkot menuturkan, dengan kondisi covid-19 ini, jelas sulit buat dirinya mencari biaya hidup untuk anak istri kalau terus menerus di sana sini di larang mencari penumpang.

“Kami merasa tertekan dengan keadaan seperti ini, terpaksa kami lakukan, walaupun itu melanggar aturan. Mudah mudahan pemerintah mengerti akan nasib kami yang kecil,” keluh Jaenal.(De-BTP)

Comments are closed.