Operasional Pesantren Di Lebak Andalkan Hasil Budi Daya Jamur Tiram

0
51

LEBAK – (BTP) – Operasional pesantren berbudidaya jamur tiram di masa Pandemi Covid-19 hasil penjualan untuk makan para santri dan operasional pesantren pandemi covid-19 telah berdampak terhadap perekonomian masyarakat dan ekonomi pesantren di Kabupaten Lebak. Untuk itu, pondok pesantren (Ponpes) dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menciptakan peluang usaha.

Contohnya, Ponpes Al-Kanza di Koeng, Desa Malabar, Kecamatan Cibadak, melakukan budidaya jamur tiram dan hasilnya dimanfaatkan untuk operasional pesantren.

Civitas akademika Ponpes Al-Kanza memiliki unit usaha budidaya jamur tiram sejak awal tahun 2020. Kegiatan usaha tersebut telah membuahkan hasil dan memberikan manfaat untuk mendukung kegiatan pesantren. Bahkan, para santri yang berasal dari keluarga tidak mampu mendapatkan topangan biaya dari hasil penjualan jamur tiram. Karena biaya makan dan operasional belajar mengajar di pesantren tercukupi dari unit usaha tersebut.

Dalam sehari, pengelola Ponpes Al-Kanza mendapatkan jamur tiram kurang lebih sebanyak 85 kilogram. Jamur tiram tersebut dijual kepada pedagang yang tiap pagi datang ke pesantren dengan harga Rp10 ribu per kilogram.

Jadi, dalam satu hari pesantren rata-rata mendapatkan penghasilan dari penjualan jamur tiram Rp 850 ribu,” terang Pimpinan Ponpes Al-Kanza Kiyai Ade Bujhaerimi Selasa (22/12/2020).

Bujhaerimi menuturkan, Ponpes Al-Kanza baru dirintis sekira satu tahun lalu. Sebagian besar santri yang mondok di pesantren tersebut berasal dari keluarga tidak mampu. Karena itu, dirinya menggratiskan biaya mondok terhadap santri dari keluarga tidak mampu dan anak yatim piatu. Di perjalanan, terjadi bencana non-alam pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Untuk itu, Ade berpikir keras untuk tetap bisa menghidupi pesantren dan memberi makan para santri yang mondok di Ponpes Al-Kanza. Dengan bekal pengetahuan tentang budidaya jamur tiram, Ade bersama para ustadz dan santri bahu membahu mendirikan tempat usaha budidaya jamur tiram. Berdiri bangunan semi permanen berukuran kurang lebih 5 x 6 meter dan terisi ribuan Baglog atau media tumbuh jamur tiram. Baglog dikemas dalam plastik yang berisi serbuk gergaji dan campurannya.

“Hasilnya cukup memuaskan. Karena dalam sehari, kami bisa menghasilkan 85 kilogram jamur tiram,” ungkap lelaki yang menjabat Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kabupaten Lebak.

Ade menegaskan, ekonomi pesantren yang sempat terganggu akibat pandemi Covid-19 kini sudah mulai normal kembali. Bahkan, kelebihan penghasilan dari penjualan jamur tiram disimpan untuk pengembangan pesantren. Karena rencananya, Ponpes Al-Kanza juga akan mengembangkan usaha budidaya ikan lele untuk menopang kegiatan ekonomi pesantren. Dua unit usaha tersebut diyakini akan mampu memberikan dampak positif di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 lalu.

“Saya bersyukur, para ustadz dan santri di sini memiliki semangat dalam menjalankan usaha ini. Bahkan, dengan kebersamaan, kita mampu melewati krisis akibat pandemi Covid-19,” ujarnya.

Untuk itu, Ade Bujhaerimi mengajak kepada pimpinan ponpes di Lebak untuk kreatif dan inovatif dalam menangkap peluang usaha di wilayahnya. Jika memungkinkan, lakukan budidaya jamur tiram, ikan lele, ikan nila, dan kerajinan tangan lainnya yang dapat menopang perekonomian warga pesantren. Jika terkendala persoalan pengetahuan, Ade siap membantu pesantren yang ada di Lebak untuk menularkan pengetahuan tentang budidaya jamur tiram dan yang lainnya.

“Potensi usaha budidaya jamur tiram dan ikan lele cukup besar. Karena itu, saya mengajak kepada pimpinan ponpes di Lebak untuk melakukan pemberdayaan di peantren, sehingga ekonomi pesantren tetap stabil walaupun diterjang badai pandemi Covid-19,” pungkasnya.

(De/Btp)

Comments are closed.