Permintaan Kain Tenun Baduy Kembali Meningkat Setelah Dampak Covid-19

0
55

LEBAK – (BTP) – Permintaan kain tenun Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten kembali meningkat dari sebelumnya sepi pembeli akibat dampak Covid-19.

“Kami sekarang mulai kembali permintaan pesanan meningkat dari beberapa bulan sebelumnya sepi pembeli,” kata Neng (45) seorang perajin kain tenun Baduy di Kadu Ketug Desa Kanekes Kabupaten Lebak, Selasa (22/12/2020).

Permintaan kain tenun Baduy itu setelah dipasarkan secara dalam jaringan (daring) secara online ke media sosial sehubungan wisatawan yang berkunjung ke pemukiman Baduy menurun drastis.

Pemasaran secara daring itu sangat membantu untuk meningkatkan omzet penjualan para perajin.

Sebab, para perajin merasa terpukul akibat dampak COVID-19 sehingga banyak perajin tradisional di kawasan Baduy gulung tikar.

“Kami hari ini mengerjakan permintaan dari Jakarta sebanyak empat potong kain tenun berukuran 3X3 meter per segi dengan harga Rp1,2 juta. Permintaan itu dikerjakan selama satu bulan,” ujarnya.

Menurut dia, konsumen yang membeli kain tenun Baduy itu ternyata perancang busana dan kemungkinan mereka tertarik untuk dijadikan kombinasi warna.

Sebab, kain tenun Baduy banyak memiliki motif dan corak warna juga berbeda dengan kain tenun dari daerah lain di Indonesia.

Selama ini, permintaan kain tenun Baduy mulai meningkat, meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan hari normal sebelum Corona.

“Kami biasanya di hari normal bisa menjual sekitar 20-30 potong/bulan dan bisa menghasilkan omzet Rp10 juta/bulan,” terangnya.

Begitu juga perajin Baduy lainnya, Rina (20) warga Kadu Ketug Desa Kanekes Kabupaten Lebak mengaku bahwa dirinya kini melayani permintaan pesanan kain tenun sebanyak tiga potong dengan harga Rp900 ribu.

Sebab, harga kain tenun di sini ukuran 3X3 meter persegi rata-rata Rp300 ribu/potong dan jika dikerjakan selama tiga pekan.

“Kami optimistis melalui pemasaran daring secara online dipastikan permintaan meningkat,” tandasnya.

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Desa Kanekes Kabupaten Lebak Hudri mengatakan saat ini perajin masyarakat Baduy secara perlahan-lahan kembali bangkit dan mulai banyak pesanan.

Namun, kini memasarkan produknya melalui daring secara online, padahal sebelumnya sempat dilarang oleh adat setempat menggunakan handphone.

“Kami minta para perajin terus berkarya guna membantu pendapatan ekonomi keluarga,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini, perajin tenun Baduy di pemukiman masyarakat adat tercatat sebanyak 600 unit usaha.

Produksi tenun Baduy itu banyak motif dan corak warna, seperti motif poleng hideung, poleng paul, mursadam, pepetikan, kacang herang, maghrib dan capit hurang.

Motif susuatan, suat songket, smata (girid manggu, kembang gedang, kembang saka), adu mancung, serta motif aros yang terdiri dari aros awi gede, kembang saka, kembang cikur, dan aros anggeus.

“Kami berharap permintaan kain tenun Baduy kembali normal, sehingga dapat menggerakan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat,” pintanya. (Bud/Btp)

Comments are closed.