Hindari Klaster Baru, Akademisi UI: Perlu Penerapan Serius Prokes di Lingkungan Pesantren

0
42

LEBAK – (BTP) – Akademisi Universitas Indonesia (UI) Milla Herdayati mengatakan, pimpinan pondok pesantren harus disiplin menerapkan protokol kesehatan di lingkungan pesantren. Tujuannya, agar tidak muncul klaster baru di lembaga pendidikan tersebut. Mengutif data dari media massa yang dikemukakan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, hingga 6 Desember 2020, tercatat sebanyak 4.328 Santri, 21 ustad dan ustadah, 2 pegawai ponpes yang terpapar virus corona.

“Ribuan santri tersebut tersebar di 67 pesantren di 13 provinsi di Indonesia. Untuk itu, ponpes rentan terpapar Covid-19,” kata Milla pada seminar kesehatan yang digelar virtual ini di Ponpes Al-Marzan, Kecamatan Cipanas, kemarin.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Camat Cipanas Oleh Najmudin, Kepala Puskesmas Cipanas, Supriyatna, dan masyarakat di sekitar pesantren.

Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) ini mengungkap, bila potensi pesantren diberdayakan bisa menjadi role model dan relawan Satgas Covid-19 dalam mengendalikan penyebaran virus mematikan ini. Contohnya, sosialisasi yang dilakukan pesantren bisa lebih mudah diterima masyarakat atau jamaah di lingkungan sekitar. Untuk itu, Milla menyarankan kepada pemerintah menggandeng pesantren dalam sosialisasi Covid-19.

“Jadi, ada dua sisi positif dan negatif. Pertama, pesantren rentan terpapar Covid karena interaksi di lingkungan pesantren yang tinggi. Kedua, pesantren bisa menjadi relawan yang membantu Satgas Covid-19 dalam menyosialiasikan prokes kepada masyarakat,” jelasnya.

Di Lebak, ada ribuan pesantren yang telah menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Dia mengingatkan kepada pimpinan pesantren untuk menerapkan protokol kesehatan agar santri tidak tertular virus tersebut. Jika ada satu santri yang terpapar maka potensi santri lain tertular cukup tinggi.

“Mudah-mudahan, pesantren di Lebak mengambil peranan dalam pencegahan penyebaran dan penularan virus corona,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta dibekali pemahaman tentang Covid-19, mitigasi, dan tata cara penanganannya manakala ada yang terinfeksi. Hal itu sesuai peraturan dan pedoman protokol kesehatan.

“Praktik saling berjabatan tangan antar santri-kiai, pola pengajaran yang dilakukan secara kolektif seperti salat berjamaah, kajian kitab menjadi potret keseharian di pesantren,” katanya.

Pimpinan Ponpes Al-Marzan, Cipanas, Kiyai Syaepudin Asy-Syadzili menyatakan, di Lebak belum ada santri yang terpapar Covid-19. Karena itu, dirinya akan berupaya maksimal agar santri atau ustadz di Lebak tidak ada yang terpapar virus tersebut. Salah satunya, yakni dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Seperti, menyediakan tempat cuci tangan, menggunakan masker, membatasi kunjungan orangtua, dan mencegah terjadinya kerumunan.

“Tidak hanya itu, kita pun aktif melakukan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di lingkungan pesantren untuk pencegahan penyebaran Covid-19,” tegasnya.

Ketua PC Nahdlatul Ulama Lebak ini mengaku, mendukung kebijakan Bupati Iti Octavia Jayabaya yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengendalikan Covid-19 di wilayah Lebak.

“Prinsipnya, kita dukung kebijakan pemerintah. Karena kita ingin kasus Covid-19 cepat terkendali,” harapnya.

(De/Btp)

Comments are closed.