Kisah Miris Gubuk Reot di Soreang Pandeglang Dihuni 3 Keluarga

0
134

PANDEGLANG, – Kisah pilu dialami pasangan Rohman (59) dan Yati (48), warga Kampung Soreang RT 03, RW 06, Desa Pareang, Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Bagaimana tidak, gubuk yang terlihat reyot dan tidak layak huni itu juga dihuni oleh dua keluarga lainnya, diantaranya kaka perempuan dengan suami dan 5 anaknya, serta adik perempuan dengan suami dan 1 anaknya dengan total yang mengisi gubuk tersebut 12 orang.

Gubuk itu hanya berlantaikan tanah dan beratapkan alang. Selain itu, atap yang usang dibeberapa titik mengakibatkan kebocoran. Sehingga saat malam tiba atau ketika hujan turun, tak banyak yang bisa mereka lakukan selain merasakan kedinginan setiap hari.

Keterbatasan ekonimilah yang menjadi alasan mereka untuk tetap bertahan di gubuk tersebut. Pekerjaan Rohman dan 2 saudaranya yang hanya sebagai petani serabutan hanya bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan seringkali mereka harus berhutang agar bisa sekadar untuk makan.

Saat ditemui dikediamannya, Rohman mengungkapkan bahwa rumah yang ditempatinya itu merupakan warisan dari orang tuanya. Karena keterbatasan ekonomi, meskipun sudah berumah tangga, namun dirinya dan kedua saudaranya terpaksa tinggal satu rumah meskipun kondisinya sangat memperihatinkan.

“Mau gimana lagi, boro-boro buat beli rumah, atau bangun rumah, untuk makan sehari-hari aja susah,” ujarnya.

Rohman berharap, Pemerintah Kabupaten Pandeglang dapat memberikan perhatian kepada keluarganya yang hidup digaris kemiskinan. Karena ia mengaku sudah bertahun-tahun tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah.

“Tolong pak, semoga ada bantuan untuk keluarga kami. Terutama untuk perbaikan rumah ini. Karena saya hanya kuli serabutan, kerja kalo ada yang nyuruh,” tukasnya.

Ditempat yang sama, Nia (9) keponakan Rohman yang juga tinggal dalam gubuk tersebut mengisahkan sulitnya perekonomian yang dialami keluarganya. Meskipun baru duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), namun seolah dirinya sangat mengetahui betul kondisi keluarganya.

“Terimakasih pak, saya sudah dikasih buat jajan. Kalo jajan sekolah paling Rp500 rupiah atau Rp 1000 rupiah,” ucapnya.

Nia menyampaikan, jika kedua orang tuanya merupakan seorang buruh tani tidak tetap. Ia menceritakan, untuk membantu ayahnya menambah penghasilan, terkadang ibunya sering membantu tetangganya mengaput (menjahit pakaian menggunaka tangan-red) pakaian.

“Ibu sering ngaput pakaian tetangga pak, kadang itu juga di bayar kadang ngga. Sekarang kita udah ngga boleh menghutang ke tetangga. Pernah di kasih ngutang beras, terus berasnya kehujanan karena rumah Bocor, kita gak makan,” kisahnya pilu. (Us/red)

Comments are closed.