CILEGON – (BTP) – Usai perhelatan Muktamar Al-Khairiyah ke-10, H Ali Mujahidin kembali dipercaya untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Al-Khairiyah periode 2021-2026. Di dua periode kepemimpinannya, H Ali Mujahidin berkomitmen akan menjadikan Al-Khairiyah terus berbuat kebaikan yang dapat memberikan manfaat bagi umat.

“Sesuai hasil Muktamar ke 10, Al-Khairiyah akan lebih fokus menjalankan tujuan utama organisasi Al-Khairiyah untuk terus melakukan amalan kebaikan untuk umat,” katanya dalam siaran persnya yang diterima pada Minggu (24/10/2021).

Pria yang akrab disapa Haji Mumu ini mengungkapkan, Al-Khairiyah ingin menjadi organisasi yang terbuka bagi siapa saja yang ingin berbuat kebaikan tinggal bagaimana skema yang akan di bangun mengingat nama Al-Khairiyah itu bermakna kebaikan, maka bagi Al-Khairiyah tidak perlu lagi ada perdebatan soal UUD 45, Bhinika Tunggal Ika, NKRI dan Pancasila.

“Pendiri Al-Khairiyah sebagai ulama pejuang militer pahlawan nasional satu-satunya di Indonesia telah membuktikan, mengorbakan jiwa dan raganya, mati syahid di medan perang dalam membela tanah air dan NKRI. Maka dari itulah bukti bahwa Al-Khairiyah memberikan kebaikan untuk semua ummat,” ungkapnya.

Perlu diketahui bahwa Al-Khairiyah sebagai organisasi pendidikan yang juga bergerak sebagai organisasi kemasyarakatan tidak menutup diri dari fanatisme terhadap madzhab tertentu dan terbuka akan perbedaan pandangan madzhab dalam keagamaan.

“Rasanya tidak perlu ada debat tahlil tidak tahlil, boleh ziarah atau tidak boleh ziarah, atau jenggot tidak jenggot dan celana cingkrang atau tidak cingkrang. Di Al-Khairiyah yang mau pakai satunya boleh, yang mau pakai jubahan boleh, yang mau pakai celana panjang atau levis boleh yang penting menyesuaikan diri secara etika dan akhlak,” jelasnya.

Menurut H Mumu diskriminasi pendapat pandangan dan debat soal yang tidak produktif hanya akan membuang energi, termasuk perdebatan soal Islam nusantara, Islam Arab, hingga Islam Modern.

“Perdebatan soal perbedaan agama yang tidak produktif termasuk perdebatan Islam Nusantara, Islam Arab, Islam Modern itu hanya membuang energi, semua itu tidak menarik karena yang menarik bagi Al-Khairiyah terus berbuat kebaikan yang dapat memberikan manfaat bagi ummat,” tukasnya. (Red/Btp)