
Pemkot Cilegon Ingatkan SOP Makanan Program MBG, Jangan Sampai Basi Sebelum Dimakan Siswa
BANTENTOP.ID — Pemerintah Kota Cilegon menegaskan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam penyajian makanan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan agar kualitas makanan tetap terjaga dan aman dikonsumsi para siswa.
Penegasan tersebut disampaikan Asisten Daerah I Setda Kota Cilegon, Mahmudin, saat menghadiri kegiatan Pendidikan Karakter Melalui Program Makan Siang Bergizi Berorientasi Gastronomi Indonesia di Aula Setda II Kota Cilegon, Jumat (8/5/2026).
Mahmudin mengatakan, makanan bergizi tidak cukup hanya mengandalkan bahan baku berkualitas. Menurutnya, proses pengolahan hingga waktu penyajian juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.
“Jangan sampai makanan dimasak tengah malam lalu baru dimakan siang hari. Ada batas aman konsumsi makanan yang harus diperhatikan supaya tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi anak-anak,” kata Mahmudin.
Ia menjelaskan, makanan yang terlalu lama disimpan berpotensi mengalami penurunan kualitas, terutama jika penanganannya tidak sesuai standar.
Mahmudin mencontohkan nasi panas yang langsung ditutup rapat dapat mempercepat proses pembusukan. Hal-hal teknis seperti itu, kata dia, kerap dianggap sepele padahal berdampak besar terhadap kualitas makanan.
“Ini terlihat sederhana, tapi dampaknya besar terhadap kualitas makanan yang diterima siswa,” ujarnya.
Selain itu, Mahmudin juga meminta pihak sekolah memastikan makanan langsung dikonsumsi siswa pada jam istirahat pertama. Tujuannya untuk meminimalisir risiko keracunan maupun berkurangnya kandungan gizi akibat makanan terlalu lama disimpan.
“Kita ingin anak-anak langsung makan saat jam istirahat pertama. Jangan ditunda atau dibawa pulang karena kualitas makanan tentu berubah,” tuturnya.
Mahmudin juga mengapresiasi para konsultan gizi dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut. Ia berharap Kota Cilegon bisa menjadi daerah percontohan dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Kami mendukung penuh program pemerintah, salah satunya MBG. Mudah-mudahan Kota Cilegon bisa menjadi pilot project yang berhasil,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Gastronomy Community, Ria Musiawan, mengatakan gastronomi bukan sekadar soal makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan pendidikan karakter.
Menurut Ria, melalui makanan anak-anak dapat belajar disiplin, kebersamaan, rasa syukur hingga mencintai budaya lokal sejak dini.
“Pendidikan karakter bisa dimulai dari meja makan. Anak-anak belajar menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakannya,” katanya.
Ria menambahkan, program makan siang bergizi berbasis gastronomi juga bertujuan mengenalkan kekayaan pangan lokal kepada siswa sekaligus membangun kebiasaan makan sehat.
Ia pun mengapresiasi dukungan Pemkot Cilegon dalam edukasi pangan dan gizi kepada siswa maupun tenaga pendidik.
“Kegiatan seperti ini sebelumnya sudah kami lakukan di Bandung, Bogor, dan Cirebon. Kami berharap para guru dapat meneruskan nilai-nilai yang diperoleh kepada siswa di sekolah masing-masing,” pungkasnya.
(Red*)








