BANTENTOP
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Tokoh
  • Opini
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Budaya & Religi
  • Advertorial
Masuk
  • Health
  • Global Affairs
  • Cilegon
  • Kota Cilegon
  • NelayanTradisional
  • BBMBersubsidi
  • Pertalite
  • Perikanan
BANTENTOPBANTENTOP
Pengubah Ukuran FontAa
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Tokoh
  • Opini
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Budaya & Religi
  • Advertorial
Search
  • Home
  • Kanal
    • News
    • Daerah
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum
    • Ekonomi
    • Sosial
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Gaya Hidup
    • Tokoh
    • Opini
    • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Budaya & Religi
    • Advertorial
Sudah memiliki akun? Masuk
Ikuti KAMI
© 2026 BANTENTOP.ID. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com
Home » Blog » BBM Bersubsidi Tersendat, Nelayan Padang Pariaman Kian Sulit Melaut
Bisnis

BBM Bersubsidi Tersendat, Nelayan Padang Pariaman Kian Sulit Melaut

Amirudin Ma'ruf
Diterbitkan: 30 Juni 2026
Bagikan
4 Menit Baca
- Advertisement -
Ad imageAd image

BANTENTOP.ID— Laut yang selama ini menjadi tumpuan hidup ribuan nelayan di Kabupaten Padang Pariaman masih menyimpan berbagai persoalan mendasar. Di tengah harapan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, nelayan justru dihadapkan pada keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga persoalan penggunaan alat tangkap yang diduga melanggar ketentuan.

Dua persoalan tersebut dinilai menjadi hambatan utama bagi keberlangsungan usaha perikanan tangkap. Ketika cuaca mendukung untuk melaut, nelayan justru kerap terkendala memperoleh BBM. Sementara di laut, ruang tangkap mereka semakin terdesak oleh aktivitas penangkapan ikan yang dinilai tidak sesuai aturan.

Pelaksana Tugas UPTD Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Perikanan Kabupaten Padang Pariaman, Dedi Tama, mengatakan pasokan Pertalite bersubsidi masih menjadi persoalan yang paling sering dikeluhkan nelayan. Mayoritas kapal payang di wilayah tersebut menggunakan mesin tempel berbahan bakar Pertalite sehingga kelancaran distribusi BBM menjadi faktor penentu aktivitas melaut.

Menurut Dedi, secara administrasi penyaluran BBM kepada nelayan tidak mengalami hambatan selama mereka telah mengantongi surat rekomendasi. SPBU yang ditunjuk juga telah melayani sesuai wilayah masing-masing. Nelayan Ulakan dan Sunua memperoleh pasokan di SPBU Toboh, nelayan Ketaping dilayani SPBU Bandara, sedangkan nelayan Gasan mengambil BBM di SPBU Tiku.

“Permasalahan muncul ketika stok Pertalite di SPBU mengalami kekosongan atau distribusi terlambat. Akibatnya nelayan harus menunda keberangkatan melaut,” ujarnya, Selasa, 30 Juni 2026.

Baca Juga

Alumni IKOPIN Pimpin DEKOPIN Banten, Tantangan Koperasi Kini Bukan Sekedar Bertahan

Di tengah tantangan tersebut, pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah penguatan sektor perikanan. Salah satunya melalui rencana pembangunan dua kawasan Kampung Nelayan yang akan berlokasi di Nagari Mangguang dan Tiram. Program ini diharapkan menjadi pusat pengembangan ekonomi pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan melalui penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung.

Namun, persoalan di laut tidak berhenti pada urusan BBM.

Ketua Kelompok Nelayan Semoga Jaya Ulakan, Safaruddin, mengungkapkan keresahan nelayan tradisional terhadap aktivitas penangkapan ikan oleh kapal dari wilayah Muara Anai yang diduga masih menggunakan pukat harimau. Menurutnya, praktik tersebut berlangsung di wilayah perairan Ulakan dan berdampak langsung terhadap menurunnya hasil tangkapan nelayan lokal.

Baca Juga

Martin Amaro Dorong PT Marodex Energy Persada Tumbuh Lewat Inovasi dan Penguatan SDM

Selain itu, ia juga menyoroti keberadaan jaring milenium milik nelayan Pasie Jambak, Kota Padang, yang hanyut hingga memasuki kawasan pesisir Ulakan Tapakis. Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas nelayan tradisional karena jaring kerap tersangkut dengan alat tangkap milik warga.

Safaruddin menjelaskan, berdasarkan ketentuan, jaring milenium seharusnya dioperasikan pada jarak sekitar dua mil laut dari garis pantai. Namun di lapangan masih ditemukan aktivitas penangkapan yang dilakukan sekitar satu mil laut dari bibir pantai, wilayah yang selama ini menjadi ruang tangkap nelayan tradisional.

Akibat tumpang tindih wilayah tangkap tersebut, nelayan tidak hanya kehilangan ruang mencari ikan, tetapi juga menghadapi risiko kerusakan alat tangkap serta penurunan hasil produksi yang berimbas langsung pada pendapatan keluarga.

Bagi masyarakat pesisir, persoalan ini bukan sekadar masalah teknis perikanan. Ketersediaan BBM bersubsidi, kepastian aturan penggunaan alat tangkap, serta perlindungan terhadap wilayah tangkap tradisional menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan mata pencaharian mereka.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Karena itu, para nelayan berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta instansi terkait memperkuat pengawasan terhadap penggunaan alat tangkap yang diduga tidak sesuai regulasi, menjamin distribusi BBM bersubsidi tetap lancar, dan mempercepat realisasi pembangunan Kampung Nelayan sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi pesisir yang lebih tangguh.

Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan sektor kelautan tidak hanya diukur dari besarnya produksi perikanan, tetapi juga dari sejauh mana negara mampu menghadirkan kepastian usaha, perlindungan ruang tangkap, dan keberpihakan terhadap nelayan kecil yang selama ini menjadi ujung tombak ketahanan pangan laut.

Baca Juga

Kuliner Banten Bersiap Go International, Tinawati Gandeng HIPMI Culinari

(Red*)

- Advertisement -
Ad imageAd image
DITANDAI:AlatTangkapBBMBersubsidiEkonomiPesisirInfrastrukturPesisirJaringMileniumKampungNelayanKesejahteraanNelayanLautIndonesiaNelayanNelayanTradisionalPadangPariamanPemerintahDaerahPengawasanLautPerikananPertalitePesisirPukatHarimauSumateraBaratTPIWilipID
Bagikan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Salin Tautan
Artikel Sebelumnya Kelurahan Ciwaduk Tingkatkan Kompetensi Pemandi Jenazah, Dukung Pelayanan Sosial Keagamaan yang Profesional
Artikel Berikutnya Mutasi Pejabat Pemkot Cilegon, Robinsar: Tak Ada Kepentingan Selain Kinerja
- Advertisement -
Ad image
TERKINI

Aktivasi IKD Personel Polres Cilegon Lampaui Target, 141 Anggota Sudah Terlayani

Pemkot Cilegon Bentuk LPS untuk Operasikan 91 Armada Sampah Hibah Kemen PU

Dulu Jumat-Sabtu Sepi, Kini Puskesmas Ciwandan Ramai Tiap Hari

Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak, Pemkot Cilegon Perkuat PATBM di Tiap Kelurahan

JLS Cilegon Kerap Makan Korban, Dishub Siapkan Garis Kejut di 5 Titik

- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
Berita Terkait
Bisnis

Program Poliran, Gubernur Banten Andra Soni: Kerjasama Kurangi Pengangguran dan Tingkatkan Ketahanan Pangan

Bisnis

Tingkatkan Sinergi Antara Hotel dan Pemerintah, Aston Anyer, Aston Cilegon, dan Aston Serang Mendukung Program MBG

Bisnis

Banten Bisa Jadi Provinsi Pertama Gandeng Hotel Gelar MBG

Bisnis

Kodim 0602/Serang Kerahkan Babinsa Untuk Memastikan Harga Gabah Sesuai Arahan Presiden RI

Bisnis Kota Cilegon

Program Inkubasi Wirausaha Muda Jadi Tonggak Lapangan Kerja Masyarakat Cilegon

BANTENTOP
BANTENTOP.ID hadir untuk menyajikan informasi yang dekat dengan kehidupan warga Banten—aktual, berimbang, dan relevan.
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan

2016 © BANTENTOP.ID. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com