BANTENTOP
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Tokoh
  • Opini
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Budaya & Religi
  • Advertorial
Masuk
  • Health
  • Global Affairs
  • Cilegon
  • Kota Cilegon
  • NelayanTradisional
  • BBMBersubsidi
  • Pertalite
  • Perikanan
BANTENTOPBANTENTOP
Pengubah Ukuran FontAa
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Tokoh
  • Opini
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Budaya & Religi
  • Advertorial
Search
  • Home
  • Kanal
    • News
    • Daerah
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum
    • Ekonomi
    • Sosial
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Gaya Hidup
    • Tokoh
    • Opini
    • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Budaya & Religi
    • Advertorial
Sudah memiliki akun? Masuk
Ikuti KAMI
© 2026 BANTENTOP.ID. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com
Home » Blog » UMJ Press dan APPTIMA Bawa Suara Indonesia ke Kongres Penerbit Dunia di Malaysia
Nasional

UMJ Press dan APPTIMA Bawa Suara Indonesia ke Kongres Penerbit Dunia di Malaysia

Amirudin Ma'ruf
Diterbitkan: 6 Juli 2026
Bagikan
6 Menit Baca
- Advertisement -
Ad imageAd image

BANTENTOP.ID — Di tengah percepatan transformasi digital yang mengubah wajah industri buku global, UMJ Press Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) bersama Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (APPTIMA) tampil mewakili Indonesia dalam 35th International Publishers Congress (IPC) 2026 di Grand Hyatt Kuala Lumpur, Malaysia, pada 5–9 Juli 2026.

Kehadiran Direktur UMJ Press Prof. Dr. Taufiqurokhman dan Ketua APPTIMA Dr. Muhammad Aripin menandai keterlibatan aktif penerbit perguruan tinggi Indonesia dalam forum internasional yang mempertemukan para pemimpin asosiasi penerbit, akademisi, pelaku industri buku, perusahaan teknologi, hingga organisasi global. Kongres ini diselenggarakan oleh International Publishers Association (IPA) bekerja sama dengan Malaysian Book Publishers Association (MABOPA).

Mengusung tema “Publishing Intelligence, Sustaining Forward”, kongres tersebut menjadi ruang strategis untuk membaca arah baru industri penerbitan dunia. Sejumlah isu krusial dibahas secara intensif, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perlindungan hak cipta digital, etika penerbitan, kebebasan berekspresi, keberlanjutan industri buku, hingga penguatan jejaring bisnis dan kolaborasi global.

Bagi Indonesia, partisipasi dalam forum semacam ini bukan sekadar seremoni kehadiran. Ia merupakan bagian dari upaya menempatkan penerbit perguruan tinggi nasional dalam arus besar perubahan industri pengetahuan global. Ketika teknologi digital merombak proses produksi, distribusi, hingga konsumsi konten ilmiah, perguruan tinggi dituntut tak hanya menjadi produsen ilmu, tetapi juga aktor penting dalam membangun ekosistem penerbitan yang sehat, modern, dan berdaya saing internasional.

Direktur UMJ Press, Prof. Taufiqurokhman, menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap penerbitan secara mendasar. Menurut dia, perguruan tinggi kini memikul tanggung jawab lebih besar: tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga memastikan publikasi ilmiah yang diterbitkan memiliki mutu, integritas, dan relevansi global.

Baca Juga

Algo Sapiens: Ketika Manusia Mulai Dikendalikan Mesin

“Kongres ini menjadi ruang strategis bagi penerbit perguruan tinggi Indonesia untuk memperluas wawasan, membangun jejaring internasional, sekaligus mempelajari berbagai praktik terbaik dalam pengelolaan penerbitan di era digital. Pemanfaatan Artificial Intelligence harus diimbangi dengan etika, perlindungan hak cipta, dan integritas akademik agar kualitas publikasi tetap terjaga,” ujar Taufiqurokhman.

Pernyataan itu mencerminkan kegelisahan sekaligus peluang yang sedang dihadapi dunia penerbitan akademik. Di satu sisi, AI membuka jalan bagi efisiensi kerja editorial—mulai dari penyuntingan awal, penerjemahan, analisis data, hingga strategi distribusi dan pemasaran publikasi ilmiah. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi tanpa rambu etis berpotensi memunculkan persoalan serius: pelanggaran hak cipta, bias konten, manipulasi naskah, hingga erosi integritas akademik.

Taufiqurokhman menegaskan, AI semestinya diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat kualitas kerja penerbitan, bukan menggantikan tanggung jawab intelektual manusia. Dalam konteks penerbit perguruan tinggi, keberadaan teknologi harus diletakkan di bawah prinsip kehati-hatian akademik, transparansi proses editorial, serta penghormatan terhadap karya intelektual sebagai fondasi utama dunia ilmu pengetahuan.

Baca Juga

Ketum PB Jazuli Juwaini : Mathla’ul Anwar Siap Berkolaborasi Memajukan Papua

Pandangan senada disampaikan Ketua APPTIMA, Dr. Muhammad Aripin. Ia melihat keikutsertaan dalam International Publishers Congress sebagai momentum penting untuk memperluas horizon penerbit perguruan tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah, terutama dalam menghadapi tantangan industri akademik yang semakin kompleks dan lintas batas.

Menurut Aripin, persoalan penerbitan perguruan tinggi hari ini tidak lagi sebatas meningkatkan kualitas naskah atau mempercepat proses terbit. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada kemampuan membangun kolaborasi internasional, memperluas akses publikasi ilmiah, memperkuat model distribusi digital, serta mengembangkan inovasi penerbitan yang relevan dengan perubahan perilaku pembaca dan kebutuhan akademik global.

Selama kongres berlangsung, delegasi Indonesia mengikuti berbagai sesi pleno dan diskusi paralel yang membahas penggunaan AI dalam penerbitan, etika pemanfaatan teknologi, hak cipta digital, aksesibilitas publikasi, penerjemahan di era digital, hingga peluang kerja sama bisnis melalui Business Networking dan Rights Trade. Forum ini juga menghadirkan sejumlah tokoh dan lembaga penting dari berbagai negara, antara lain perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), European Parliament, Elsevier, Penguin Random House, Hachette, PEN International, serta asosiasi penerbit dan perguruan tinggi dari Asia, Eropa, Afrika, Australia, dan Amerika.

Keikutsertaan UMJ Press dan APPTIMA dalam forum tersebut memberi pesan yang jelas: penerbit perguruan tinggi Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan global. Di tengah persaingan industri konten dan publikasi ilmiah yang semakin ketat, Indonesia perlu memperkuat kapasitas penerbitan akademik agar mampu masuk ke rantai pengetahuan internasional—baik melalui penerbitan bersama (co-publishing), pertukaran hak cipta, penerjemahan karya ilmiah, maupun promosi buku dan publikasi akademik Indonesia ke pasar dunia.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Langkah ini menjadi semakin relevan karena reputasi perguruan tinggi kini tidak hanya ditentukan oleh jumlah riset yang dihasilkan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola, menerbitkan, dan mendiseminasikan pengetahuan secara profesional. Penerbit kampus bukan lagi unit administratif pelengkap, melainkan simpul strategis dalam diplomasi akademik, penguatan reputasi institusi, dan perluasan pengaruh intelektual Indonesia di panggung global.

Bagi UMJ Press, forum ini diharapkan menjadi sumber pembelajaran konkret untuk memperkuat tata kelola penerbitan ke depan. Taufiqurokhman berharap hasil pembahasan selama kongres dapat menjadi referensi dalam mengembangkan model penerbitan yang lebih inovatif, adaptif, dan berkelanjutan, baik di lingkungan UMJ maupun dalam jejaring penerbit perguruan tinggi di Indonesia.

Baca Juga

Dua Tahun Prabowo: Antara Negara Kuat dan Pemerintahan Efektif

Pada titik itu, kongres internasional ini tidak hanya dibaca sebagai agenda tahunan industri buku. Ia juga menjadi cermin bahwa masa depan penerbitan akademik akan ditentukan oleh keberanian beradaptasi, kecakapan membangun kolaborasi lintas negara, serta keteguhan menjaga etika dan integritas ilmiah di tengah arus teknologi yang terus melaju.

Kehadiran UMJ Press dan APPTIMA di Kuala Lumpur setidaknya menandai satu hal penting: Indonesia mulai menegaskan posisi bahwa penerbitan akademik bukan sekadar urusan mencetak buku atau jurnal, melainkan bagian dari strategi besar membangun daya saing bangsa melalui pengetahuan.

(Red*)

- Advertisement -
Ad imageAd image
Bagikan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Salin Tautan
Artikel Sebelumnya Martin Amaro Dorong PT Marodex Energy Persada Tumbuh Lewat Inovasi dan Penguatan SDM
Artikel Berikutnya Hashim Djojohadikusumo Lantik Pengurus Srikandi Jaga Desa se-Indonesia, ABPEDNAS dan SMSI Kerja Sama Dukung Program Jaga Desa.
- Advertisement -
Ad image
TERKINI

Pemkot Cilegon Kejar Target 2027 Bebas Rawan Air Bersih di Merak

Pemkot Cilegon Sosialisasi Penertiban Parkir Liar hingga Balap Liar, Penindakan Mulai Pekan Depan

Aktivasi IKD Personel Polres Cilegon Lampaui Target, 141 Anggota Sudah Terlayani

Pemkot Cilegon Bentuk LPS untuk Operasikan 91 Armada Sampah Hibah Kemen PU

Dulu Jumat-Sabtu Sepi, Kini Puskesmas Ciwandan Ramai Tiap Hari

- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
Berita Terkait
Nasional

UMKM Jadi Mesin Ekonomi Aceh, Fadhil Ilyas Raih SMSI Aceh Award 2026

Nasional

Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa Hasyim S Djoyohadikuwumo : Saya Datang di sini karena Percaya

Nasional

JAM-Intel: Pokja Newsroom Diharapkan Jadi Sumber Informasi Persoalan di Desa

Nasional

Jembatan Merah Putih Presisi di Bayah Diresmikan, Gubernur Banten Andra Soni Hadir Bersama Forkopimda

Nasional

Dahnil Ceritakan Filosofi Berdirinya Ormas Matahari Pagi Indonesia

BANTENTOP
BANTENTOP.ID hadir untuk menyajikan informasi yang dekat dengan kehidupan warga Banten—aktual, berimbang, dan relevan.
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan

2016 © BANTENTOP.ID. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com