
Alumni IKOPIN Pimpin DEKOPIN Banten, Tantangan Koperasi Kini Bukan Sekedar Bertahan
BANTENTOP.ID – Gerakan koperasi di Provinsi Banten memasuki babak baru. Ade Burhanudin, SE, MM, yang juga merupakan Ketua Ikatan Alumni IKOPIN University Cabang Banten, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Wilayah Provinsi Banten periode 2026-2031.
Ade menggantikan Hj. Ratu Tatu Chasanah, SE, M.Ak yang selama masa kepemimpinannya mendorong penguatan gerakan koperasi melalui pendidikan perkoperasian serta penerapan sistem informasi keuangan terpadu di lingkungan koperasi.
Pergantian kepemimpinan tersebut berlangsung melalui Musyawarah Wilayah (Muswil) DEKOPIN Wilayah Provinsi Banten yang digelar di Serang, Banten, Sabtu (8/8/2026).
Muswil mengusung tema “Menjaga Nilai dan Prinsip Koperasi”. Forum tersebut dihadiri hampir seluruh anggota dan berlangsung secara demokratis. Ketua Harian DEKOPIN Pusat, Dr. Agung Sujatmoko, MM, turut hadir mewakili Ketua Umum DEKOPIN Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, MH.
Terpilihnya Ade menjadi penanda bahwa estafet kepemimpinan gerakan koperasi Banten kini memasuki fase baru. Tantangannya pun tidak ringan: koperasi dituntut tetap memegang teguh jati diri dan prinsip koperasi, tetapi pada saat yang sama harus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, perilaku konsumen, hingga persaingan usaha yang semakin terbuka.
Dalam laporan pertanggungjawabannya, Ketua DEKOPIN Wilayah Banten sebelumnya, Ratu Tatu Chasanah, menyoroti tantangan koperasi ke depan yang semakin kompleks.
Menurutnya, peningkatan kinerja usaha koperasi harus dilakukan dengan mengoptimalkan kemampuan membaca dan memanfaatkan peluang dari lingkungan eksternal. Namun, pembenahan dari dalam koperasi juga tidak boleh diabaikan.
Kekuatan internal koperasi, kata dia, salah satunya terletak pada hubungan yang sinergis antara koperasi dan anggotanya.
Sebab, koperasi pada hakikatnya bukan sekadar badan usaha. Koperasi merupakan organisasi ekonomi yang dimiliki dan dikendalikan oleh anggotanya.
Karena itu, koperasi yang kehilangan hubungan dengan anggotanya berisiko kehilangan ruh gerakan koperasi itu sendiri.
Di tengah perubahan ekonomi yang bergerak cepat, tantangan koperasi bukan hanya bagaimana meningkatkan omzet atau memperbesar aset. Lebih jauh, koperasi dituntut mampu membangun tata kelola yang sehat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memanfaatkan teknologi untuk memperkuat pelayanan kepada anggota.
Ketua Harian DEKOPIN Pusat, Dr. Agung Sujatmoko, mendorong kepengurusan baru DEKOPIN Banten untuk mempertahankan berbagai program yang selama ini dinilai memberikan manfaat bagi gerakan koperasi di daerah.
Ia menilai kegiatan DEKOPIN Wilayah Banten di bawah kepemimpinan Ratu Tatu Chasanah yang berjalan secara swadaya merupakan salah satu contoh penerapan prinsip kemandirian dalam koperasi.
Menurut Agung, keberadaan DEKOPIN di daerah harus memberikan dampak nyata, bukan hanya bagi koperasi, tetapi juga bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Salah satu pekerjaan penting yang perlu terus diperkuat adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia koperasi.
Sebab, koperasi yang memiliki modal besar tetapi tidak dibarengi sumber daya manusia yang mampu mengelolanya akan sulit menghadapi perubahan zaman.
Sementara itu, Ketua DEKOPIN Wilayah Banten terpilih, Ade Burhanudin, memastikan kepengurusan baru akan mendorong penguatan teknologi informasi dan digitalisasi koperasi.
Agenda tersebut rencananya dilakukan melalui kerja sama dengan Koperasi Multi Pihak Digital dan Teknologi Indonesia (KOMUDITI).
KOMUDITI merupakan koperasi multi pihak yang bergerak di bidang digital, teknologi, dan pengembangan kapasitas koperasi. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghadirkan solusi terintegrasi atau end-to-end dalam mendukung tata kelola, kinerja usaha, serta daya saing koperasi.
Bagi Ade, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan.
Koperasi yang ingin bertahan dan berkembang harus mampu membaca perubahan. Sistem administrasi, keuangan, pelayanan anggota, pemasaran hingga pengambilan keputusan bisnis tidak bisa selamanya bergantung pada pola kerja konvensional.
Di titik inilah kepemimpinan baru DEKOPIN Banten akan diuji.
Menjaga nilai dan prinsip koperasi memang menjadi fondasi. Namun, fondasi tanpa inovasi bisa membuat koperasi tertinggal. Sebaliknya, digitalisasi tanpa pemahaman terhadap jati diri koperasi juga berpotensi menjauhkan koperasi dari kepentingan anggotanya.
Karena itu, tantangan terbesar Ade Burhanudin bukan sekadar melanjutkan kepemimpinan sebelumnya. Ia harus mampu mempertemukan dua kebutuhan sekaligus: mempertahankan jati diri koperasi dan membawa gerakan koperasi Banten masuk lebih jauh ke ekosistem ekonomi digital.
Lima tahun ke depan akan menjadi periode penting untuk membuktikan apakah koperasi di Banten hanya mampu bertahan, atau benar-benar mampu naik kelas menjadi kekuatan ekonomi anggota yang modern, mandiri, dan kompetitif.
(RED*)









